Pangkal pinang Hukum tembak.com.Di tengah sengitnya persaingan media dan hantaman arus informasi yang kian liar, sebuah langkah tak biasa konsisten diambil oleh manajemen Ivounk Media Cyber (IMC).
Bukan sibuk berdebat soal rating atau mengejar sensasi, jajaran petinggi hingga redaksi lembaga pers ini justru memilih bersimpuh setiap Kamis malam (malam Jumat) ba’da Maghrib.
Ritual keagamaan membaca Surah Yasin secara rutin dijadikan benteng pertahanan moral di tengah riuhnya industri media modern.
Langkah spiritual ini dikomandoi langsung oleh Evan Satriady,Pemilik sekaligus Penanggung Jawab IMC,Menurut Evan, rutinitas ini bukan sekadar formalitas seremonial untuk mencari citra positif, melainkan fondasi etik yang wajib dijalankan oleh seluruh elemen di IMC.
“Di balik tajamnya pena dan kritisnya karya jurnalistik yang kami sajikan, ada tanggung jawab moral kepada Sang Pencipta. Yasinan rutin tiap Kamis malam ini adalah momentum penyucian niat agar pers tidak kehilangan arah dan nurani,” tegas Evan Satriady,Kamis malam (24/9/2026).
Evan juga menegaskan struktur kepemimpinan organisasi untuk meluruskan tatanan internal Ia menyatakan bahwa A’as Asrori memegang tampuk kepemimpinan sebagai Ketua IMC, sementara pembinaan moral dan arah kebijakan organisasi dikawal ketat oleh Drs. Subri, MM selaku Dewan Penasehat.
Senada dengan Evan, Drs. Subri, MM menekankan pentingnya integritas bagi awak media. Dari sudut pandang penasehat, integritas jurnalis tidak hanya diuji di lapangan saat berhadapan dengan narasumber atau kekuasaan, melainkan juga dibentuk melalui kebiasaan spiritual yang konstan.
“Media yang kuat bukan hanya yang berani bersuara keras, tetapi yang memiliki akar spiritual kokoh. Jika mental dan spiritualnya rapuh, produk jurnalistiknya pun akan gampang goyah ditumpangi kepentingan,” ujar Subri dengan nada tegas.
Uniknya, pembacaan Yasin dan doa bersama ini tidak mendatangkan penceramah luar, melainkan dipimpin langsung oleh Ustadz Mus Mulyadi, S.Ag, yang juga menjabat sebagai Dewan Redaksi IMC.
Kehadiran tokoh agama di jajaran redaksi ini menegaskan sinergi antara nilai-nilai religius dan kontrol kualitas pemberitaan.
Dalam narasi tidak langsungnya, Ustadz Mus Mulyadi menyampaikan bahwa doa dan zikir bersama ini merupakan sarana ‘ruqyah spiritual’ bagi para pemburu berita agar tetap berada pada koridor kebenaran dan terhindar dari praktik fitnah serta provokasi.
Di satu sisi, konsistensi IMC menggelar Yasinan mingguan menuai apresiasi dari kalangan masyarakat dan tokoh keagamaan lokal.
Aktivitas ini dinilai mampu memberikan warna baru bahwa insan pers tidak lepas dari nilai keagamaan.
Namun, di sisi lain, pengamat media menyoroti tantangan nyata yang harus dibuktikan IMC di lapangan.
Ritual keagamaan yang intens tidak boleh sekadar menjadi tameng moral atau ‘pemanis bibir’ jika tidak diimbangi dengan kualitas jurnalistik yang independen, objektif, dan berani membongkar ketimpangan publik.
Menjawab skeptisisme tersebut, manajemen IMC menegaskan bahwa kegiatan Yasinan ini justru menjadi pendorong utama bagi mereka untuk tetap berani, tajam, dan tidak kompromistis terhadap penyelewengan, namun tetap memegang teguh kode etik jurnalistik***Tim IMC Group


